Oleh: Shinta Karunia Perm, S.Si
Bengkulutoday.com - Angka positif Covid-19 saat ini masih terus bertambah bahkan saat ini sudah menginjak diangka 6 juta orang di Indonesia. Belum selesai dengan Covid-19 baru-baru ini Indonesia dikejutkan dengan penyakit Polio yang kembali di temukan setelah berhenti pada tahun 2006, kasus pertama pada tahun 2022 ini ditemukan di Kabupaten Pidie, Aceh dan saat ini masih terus bertambah. Walaupun belum di temukan di Provinsi Bengkulu khususnya di Kota Bengkulu namun masyarakat diminta tetap waspada. Menurut Kementrian Kesehatan terdapat 30 provinsi dan 415 kabupaten/kota yang beresiko tinggi terjangkit virus polio, termasuk Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Virus polio ini salah satunya bisa disebabkan karena lingkungan yang kotor, sehingga keadaan ini dapat menyebar hingga ke sistem pencernaan.
Menurut Kemenkes, polio sendiri adalah virus yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus yang bereplikasi di usus dan dikeluarkan melalui tinja. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motor neuron pada cornu anterior dari sumsum tulang belakang akibat infeksi virus. Penyakit ini dianggap sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kelumpuhan yang belum ada obatnya. Gejala awal dari virus Polio ini yaitu demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher dan nyeri di tungkai.
Polio dapat menyerang pada usia berapapun, namun anak-anak yang berumur kurang dari 5 tahun sangat rentan terkena virus tersebut, kondisi ini dapat dicegah dengan mudah salah satunya dengan pemberian imunisasi lengkap. Namun, kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi di Indonesia khususnya di Kota Bengkulu masih rendah.
Badan Pusat Statistik Kota Bengkulu melalui publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat tahun 2022 merilis angka persentase penduduk umur 0-59 uulan (balita) yang menerima imunisasi lengkap hanya sebesar 50,30 persen dan persentase pemberian jenis imunisasi Polio adalah nomor 2 terendah pemberiannya terhadap penduduk umur 0 – 59 bulan (balita) setelah imunisasi Campak/MMR yaitu hanya sebesar 76,70 persen dari masyarakat yang mendapatkan imunisasi lengkap. Nilai ini jauh lebih rendah dari tahun sebelumnya, pada tahun 2021 persentase penduduk umur 0 – 59 bulan (balita) yang menerima imunsisasi lengkap yaitu sebesar 70,92 persen dan pemberian imunisasi polio sebesar 95,32 persen. Imunisasi lengkap dalam hal ini yaitu pemberian imunisasi BCG sebanyak 1 kali, Polio sebanyak 3 kali, DPT sebanyak 3 kali, Campak sebanyak 1 kali, dan Hepatitis B sebanyak 3 kali.
Penurunan pemberian imunisasi ini menurut Kementerian Kesehatan disebabkan oleh berbagai faktor termasuk gangguan rantai pasokan, aturan pembatasan kegiatan, dan berkurangnya ketersediaan tenaga kesehatan, yang menyebabkan penghentian sebagian layanan vaksinasi pada puncak pandemi COVID-19. Padahal pemberian imunisasi lengkap sangat penting diberikan khususnya pada anak 0 – 59 bulan, karena anak dengan usia tersebut sangat rentan terkena penyakit tidak hanya itu, pemberian imunisasi juga dapat memberikan perlindungan seumur hidup dari beberapa jenis penyakit berbahaya seperti Polio, Campak, Hepatitis, dan lain sebagainya.
Dari pernyataan diatas kita sebagai masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kepedulian kita terhadap kesehatan khususnya dalam pemberian imunisasi bagi anak khususnya balita sesuai dengan umurnya untuk mencegah terjangkitnya penyakit tertentu yang berbahaya. Dari sisi pemerintah, diharapkan dapat lebih gencar lagi terhadap pencanagan program pemberian imunisasi lengkap terhadap anak khususnya balita bisa dengan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi. Semoga seluruh balita di Indonesia dapat terbebas dari ancaman polio dan penyakit berbahaya lainnya.
Shinta Karunia Permata Sari, ASN BPS Kota Bengkulu