“Dari Kompetisi ke Kolaborasi: Mencari Arah Media Ditengah Gelombang Digital dan AI”

“Dari Kompetisi ke Kolaborasi: Mencari Arah Media Ditengah Gelombang Digital dan AI”

Bengkulutoday.com - Di zaman yang bergerak cepat, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang mau belajar berubah bersama keadaan.

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya merasa sedang berdiri di persimpangan yang agak membingungkan. Disatu sisi, kami diajarkan dasar-dasar jurnalistik yang rapi, terstruktur, dan penuh etika. Tapi disisi lain, dunia diluar kampus seperti berlari jauh lebih cepat, dipenuhi oleh media sosial, algoritma, dan sekarang ditambah lagi dengan kecerdasan buatan yang seolah bisa melakukan hampir segalanya.

Kadang muncul pertanyaan sederhana, apakah yang kami pelajari masih relevan, atau justru harus segera menyesuaikan diri?

Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir terasa seperti lompatan besar. Dulu, media masih bertumpu pada platform yang jelas, koran, televisi, radio. Sekarang, siapa saja bisa menjadi penyampai informasi. 

Bahkan, dengan bantuan AI, seseorang bisa membuat konten dalam hitungan menit. Ini membuat batas antara jurnalis profesional dan kreator konten menjadi semakin tipis. Dititik ini, saya melihat ada tantangan sekaligus peluang yang tidak bisa dihindari.

Masalahnya, perubahan ini seringkali dihadapi dengan cara lama, yaitu kompetisi. Media berlomba menjadi yang tercepat, yang paling viral, yang paling banyak dilihat. Tapi ironisnya, dalam perlombaan itu, kualitas informasi kadang jadi korban. Bahkan tidak jarang, kepercayaan publik ikut tergerus. Ini membuat saya berpikir, apakah benar kita masih harus saling bersaing, atau justru sudah waktunya mengubah cara pandang?

Saya mulai melihat bahwa diera digital ini, kolaborasi bukan lagi pilihan tambahan, tapi kebutuhan utama. Ketika informasi bergerak begitu cepat, tidak mungkin satu pihak bisa berdiri sendiri dan merasa paling benar. Justru dengan saling berbagi, saling menguatkan, dan saling mengoreksi, kualitas informasi bisa lebih terjaga. Kolaborasi bukan berarti kehilangan identitas, tapi justru memperkuat peran masing-masing.

Disisi lain, adaptif juga menjadi kata kunci yang tidak kalah penting. Dunia digital tidak menunggu siapa pun untuk siap. Ia terus bergerak, bahkan kadang terasa terlalu cepat. Media yang tidak mau belajar teknologi baru akan tertinggal, sementara yang terlalu cepat tanpa dasar yang kuat juga bisa kehilangan arah. Disinilah keseimbangan itu diuji, antara menjaga nilai jurnalistik dan mengikuti perkembangan zaman.

Kehadiran AI dalam industri media juga menghadirkan dilema tersendiri. Disatu sisi, AI bisa membantu mempercepat proses produksi konten, dari menulis, mengedit, hingga menganalisis data. Tapi disisi lain, ada kekhawatiran tentang hilangnya sentuhan manusia, tentang keaslian, dan tentang tanggung jawab moral. Saya merasa, dititik ini, manusia tidak boleh kalah oleh teknologi, tapi juga tidak boleh menolaknya mentah-mentah.

Menurut saya, yang perlu dibangun bukan sekadar kemampuan teknis, tapi juga kesadaran kolektif. Bahwa media, jurnalis, dan bahkan kreator konten memiliki tanggung jawab yang sama terhadap publik. Informasi bukan hanya soal cepat dan menarik, tapi juga soal benar dan berdampak. Jika masing-masing berjalan sendiri, maka yang terjadi adalah kebisingan. Tapi jika bisa berjalan bersama, mungkin yang tercipta adalah ekosistem yang lebih sehat.

Dalam konteks ini, munculnya ruang-ruang kolaborasi menjadi sangat penting. Bukan hanya untuk berbagi sumber daya, tapi juga untuk membangun standar bersama. Saya membayangkan sebuah ekosistem dimana media besar dan kecil bisa saling belajar, jurnalis senior dan junior bisa saling mengisi, bahkan kreator konten bisa ikut terlibat dalam menjaga kualitas informasi. Ini mungkin terdengar ideal, tapi bukan sesuatu yang mustahil.

Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa pemahaman saya masih terbatas. Tapi justru dari keterbatasan itu, saya melihat bahwa masa depan media tidak bisa dibangun dengan cara lama. Dunia sudah berubah, dan cara kita melihat dunia juga harus ikut berubah. Bukan lagi soal siapa yang paling unggul sendiri, tapi siapa yang bisa berjalan bersama lebih jauh.

Dititik inilah, saya melihat relevansi dari tema “Kolaboratif dan Adaptif di Era Transformasi Digital” menjadi sangat nyata. Dan lahirnya Asosiasi Media dan Jurnalis menjadi seperti jawaban awal dari kebutuhan itu, sebuah ruang untuk mulai membangun kebersamaan ditengah perubahan yang begitu cepat. AMJ bukan sekadar organisasi, tapi bisa menjadi titik temu dari berbagai perbedaan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Mungkin AMJ hari ini masih seperti langkah kecil ditengah perubahan besar, tapi justru dari langkah kecil itulah arah bisa ditentukan. Ditengah derasnya arus digital dan bayang-bayang kecerdasan buatan, AMJ bisa menjadi seperti jembatan sederhana, yang tidak terlihat megah, tapi menghubungkan banyak langkah agar tidak berjalan sendiri di jalan yang semakin ramai. (Fatima Rohmadianti, Mahasiswa S1 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Ratu Samban)