Gulai Lema, Lauk Khas Suku Rejang

Gulai Lema, Lauk Khas Suku Rejang

Bengkulutoday.com - Gulai "lema" merupakan makanan khas suku Rejang yang sudah ada sejak ratusan tahun silam yang saat ini masih digemari masyarakat suku Rejang.

Alya salah satu pembuat gulai lema yang tinggal di Desa Sosokan Taba, Kecamatan Muara Kemumu, Kabupaten Kepahiang, mengatakan bahwa gulai yang berbahan dasar bambu muda dan ikan ini, tidak semua orang bisa membuatnya. Selain membutuhkan ketelatenan  pengolahannya juga membutuhkan waktu fermentasi yang memakan waktu beberapa hari.

"Kalau orang yang belum bisa membuatnya, atau tidak bisa mengelolanya gulai lema ini bisa menjadi tidak enak karena akan menimbulkan rasa asam yang berlebihan dan aroma yang tidak sedap. Juga membuatnya itu butuh ketelitian mulai dari milih bambunya jangan yang udah keras, kemudian jenis ikannya juga berpengaruh pada rasa lema ini," kata Aliyah, Minggu (22/09/24).

Lema sendiri berasal dari bahasa Rejang "lemeah" yang berarti lemah dan tidak bertenaga karena menikmati enaknya makanan tersebut. Kuliner ini dulunya banyak ditemukan pada saat merayakan hari besar keagamaan, menjamu tamu yang datang dari luar daerah atau disajikan juga saat pernikahan dan acara lainnya.

Untuk membuat lema, pertama-tama adalah bambu muda dicincang halus, kemudian dicampurkan dengan potongan-potongan ikan air tawar, lalu di fermentasi selama tiga hari. 

Lema yang sudah difermentasi, siap untuk dimasak menjadi gulai dengan ditambah cabe, bawang putih dan bawang merah. 

Bagi masyarakat Rejang, gulai lema memiliki sensasi sendiri saat dinikmati terasa gurih,  pedas dan sedikit keasam-asaman. Tidak heran ketika sudah memakannya akan membuat orang ketagihan untuk mencobanya lagi.

"Rasanya itu unik ya, ada khasnya sendiri rasanya gurih, pedas terus ada rasa asam-asamnya dikit. Pokonya enggak ditemukan di rasa gulai-gulai lainnya kalau udah makan ini pasti mau nyoba lagi," ujar Dwi penikmat gulai lema. (Laura)