Kala Bumi Direstorasi Virus

M Bisri Mustofa

Setiap tahunnya, kita selalu diingatkan dengan segala macam ujian. Mulai dari bencana alam, kelaparan, ketimpangan sosial hingga yang paling klimaks yakni pandemi global wabah Virus Corona Desease 2019 atau Covid-19.

Ada semacam pembersihan dan restorasi alam semesta yang dilakukan Tuhan dalam mengembalikan keseimbangan ekosistem dunia. Manusia sebagai mahluk kompleks dalam memegang kendali atas dunia telah membuat kebijakan semesta menjadi sedikit buruk. Banyaknya revolusi tingkah laku yang berakibat pada kerusakan di bumi seolah menghadirkan Covid-19 ini menjadi kontrol sosial bagi semua elemen. Sebagian orang menganggapnya media perbaikan pola dan tingkah laku manusia dan sebagian lagi beranggapan bahwa ini tetaplah bencana yang semena-mena. Lebih lagi hadirnya pandemic ini pada momen yang pas, jelang Ramadhan.

Wabah ini justru membawa hikmah luar biasa. Dari sisi ekosistem lingkungan dan alam, langit kembali menjadi biru, aliran sungai kembali jernih karena berkurangnya polusi udara dan sampah limbah akibat pabrik-pabrik berhenti beroperasi.

Pantai menjadi bersih dari sampah plastik. Ikan berenang gembira karena tak lagi diganggu kapal pesiar mewah. Burung terdengar bersahutan karena jalan raya tak lagi brisik akan suara knalpot dan klakson. Keluarga yang selama ini tak pernah lagi duduk makan bersama dan saat bertemu biasanya hanya uang dan kerja yang dibahas, kini lebih banyak berkumpul di rumah beribadah dan beraktivitas bersama keluarga.

Mana lagi skenario Tuhan yang salah bagi mahluk ciptaannya?

Pemerintahan yang selama ini agak sedikit kotor dengan tingkah laku politik, buruknya pengelolaan anggaran pembangunan sumber daya, seakan dibersihkan dan direalokasi demi menangani sebongkah virus kecil bernama Covid-19. Isu peperangan di Negara Timur juga seakan sedikit hilang dari peradaban. Pembantaian etnis dan kelompok marjinal yang sebelumnya digembar-gemborkan ke pusaran global, sekilas lenyap dan tak lagi menimbulkan reaksi sosial.

Jika ada sementara pihak yang protes kenapa masjid ditutup dan kemudian muncul teori-teori konspirasi, sebenarnya mereka lupa bahwa pusat perjudian di Las Vegas Amerika dan Singapura juga tutup. Semua bar dan club di New York, Paris, dan London tutup. Tempat prostitusi di Jerman Belanda dan Rusia juga tutup. Semua kemaksiatan berhenti seketika akibat Covid-19.

“Bukan karena takbir atau pentungan” ujar Gus Nadir sang Rais Syuriah pada sebuah pengajian.

Adanya anggapan konspirasi adalah sebagian orang yang tak paham akan kontrol dari Tuhan. Tidaklah mungkin ada seseorang yang ingin menimbulkan kerusakan di bumi dengan mematikan ras manusia demi kebaikan elemen lainnya.

Ada penegaskan bahwa boleh jadi seseorang akan mendapatkan pengalaman batin dalam penderitaan, saat ia tak bisa mendapatkannya dalam puasanya dan shalatnya. Pengalaman batin saat diuji adalah cara Allah untuk menarik manusia lebih dekat lagi kepadaNya. Bukan hanya dalam keadaan saat beribadah saja, tapi juga saat mengalami kerugian dan musibah.

Akhir kata, prilaku negatif masyarakat terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam telah menyebabkan wabah Covid-19 menjadi pandemik dan berdampak pada menurunnya perekonomian masyarakat serta munculnya masalah sosial baru.

Selanjutnya, upaya penanggulangan wabah Covid-19 telah menimbulkan perubahan sosial di bidang kepercayaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan serta perubahan dalam bidang sosial terhadap terdampak Covid-19 dan para penderitanya, dengan kata lain tidak ada masyarakat di bumi yang tidak tersentuh oleh perubahan sosial yang ditimbulkan sengsaranya prilaku isolasi dan upaya penanggulangan wabah Covid-19 oleh pemerintah.

Senantiasalah berbuat kebaikan dalam upaya membangun peradaban sosial yang lebih maju. Kebijakan dan keseimbangan ekosistem adalah salah satu cara terjitu dalam mencegah timbulnya wabah baru di kemudian hari. Lebih lagi adalah bagaimana manusia tidak mengulangi prilakunya membuat kerusakan di muka bumi.

*Bisri Mustofa, Penulis Fiksi