Ketika PHK 'Merajalela' di Tengah Turunnya Angka Pengangguran, Apa yang Salah?

Foto ilustrasi ekonomi Indonesia (Sumber : https://unsplash.com/)

Bengkulutoday.com -  Pada bulan Februari 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkait pengangguran di Indonesia. Meskipun angka pengangguran menurun secara year on year, ada fenomena yang patut diperhatikan terkait dengan penurunan ini. Meskipun ada penurunan jumlah pengangguran, terdapat peningkatan dalam kategori "setengah menganggur", menandakan adanya ketidaksesuaian antara ketersediaan lapangan kerja dan kebutuhan tenaga kerja di Indonesia. Mengapa hal ini terjadi?

Pertumbuhan industri tidak selalu diikuti oleh penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Sejumlah industri, seperti industri tekstil, mengalami pertumbuhan negatif yang berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja.

Kebijakan pemerintah memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja. terdapat kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja industri dengan kualifikasi yang dimiliki oleh lulusan sekolah menengah. Meskipun kebanyakan
 
Industri membutuhkan tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan SMA dan SMK, namun kebutuhan akan keterampilan dan ketentuan tertentu, seperti ada kualifikasi pengalaman dan pengelasan, mungkin tidak terpenuhi oleh lulusan sekolah tersebut. Informasi mengenai pasar kerja untuk level pendidikan SMA dan SMK juga masih terbatas. Hal ini menyebabkan ketidakpahaman para pencari kerja mengenai kebutuhan industri dan kesempatan kerja yang tersedia.

Lembaga pelatihan seperti Balai Latihan Kerja (BLK) memiliki peran yang penting dalam mendukung pengembangan tenaga kerja yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan industri. Namun, dalam era ketika teknologi terus berkembang dengan cepat, BLK sering kali kesulitan untuk mengikuti perubahan tersebut. Investasi dalam teknologi baru memicu perubahan dalam kebutuhan tenaga kerja, yang membutuhkan penyesuaian yang cepat dari lembaga-lembaga pelatihan.

Pemerintah perlu meningkatkan kerja sama antara industri dan lembaga pendidikan. Hal ini dapat dilakukan dengan menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri, serta memberikan pelatihan kepada guru dan instruktur untuk memastikan kualitas pendidikan sesuai dengan tuntutan pasar kerja. Diperlukan upaya untuk meningkatkan akses informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Pemerintah dapat memanfaatkan teknologi untuk menyediakan platform yang menyediakan informasi tentang kebutuhan industri, peluang kerja, dan kualifikasi yang dibutuhkan.

Lembaga pelatihan seperti BLK perlu diberdayakan dan diperkuat untuk dapat mengikuti perkembangan industri dengan cepat. Ini dapat dilakukan dengan meningkatkan investasi dalam infrastruktur pelatihan, menyediakan instruktur yang berkualitas, dan memperbarui kurikulum pelatihan secara berkala.

Dengan demikian, diharapkan dapat diatasi tidak hanya fenomena pengangguran yang meningkat, tetapi juga ketidaksesuaian antara industri dan tenaga kerja. Ini akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Ditulis : Muhammad Raihan Palovi (Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Bengkulu)