Bengkulutoday.com – Sebuah rumah sederhana bercat putih di Kota Bengkulu menjadi saksi bisu lahirnya berbagai gagasan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bangunan yang kini dikenal sebagai Rumah Pengasingan Bung Karno itu menjadi tempat Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menjalani masa pengasingan oleh Pemerintah Hindia Belanda selama hampir empat tahun, tepatnya pada 1938 hingga 1942.
Hingga kini, rumah bersejarah tersebut tetap terawat dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit di Bengkulu. Tidak hanya wisatawan, pelajar, mahasiswa, hingga peneliti kerap datang untuk mengenal lebih dekat perjalanan perjuangan sang proklamator.
Pengelola Operasional Umum Rumah Pengasingan Bung Karno, Safri Danum, menjelaskan bangunan tersebut awalnya bukan dibangun khusus untuk Bung Karno. Rumah itu merupakan milik seorang warga keturunan Tionghoa yang kemudian disewa oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat tinggal Bung Karno selama menjalani masa pengasingan.
"Rumah ini sudah berdiri sebelum Bung Karno datang ke Bengkulu. Pemerintah Hindia Belanda mengontrak rumah milik warga Tionghoa untuk dijadikan tempat tinggal Bung Karno selama menjalani masa pengasingan dari tahun 1938 hingga 1942. Beliau tinggal bersama Ibu Inggit Garnasih dan dua anak angkat mereka yang datang dari Bandung," ujar Safri saat ditemui di Rumah Pengasingan Bung Karno, Jumat (3/7/2026).
Meski berada dalam pengawasan pemerintah kolonial, Bung Karno tetap aktif berkarya dan berinteraksi dengan masyarakat. Selama tinggal di Bengkulu, ia mengisi waktu dengan menulis, berdiskusi, memperluas wawasan, serta merumuskan berbagai pemikiran kebangsaan yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Rumah tersebut juga menyimpan sejumlah benda bersejarah yang hingga kini masih terawat. Di antaranya sepeda yang digunakan Bung Karno untuk beraktivitas, kursi, keranjang, hingga sumur tua yang menjadi sumber air bagi keluarga Bung Karno selama tinggal di rumah tersebut. Selain itu, museum juga memiliki koleksi uang emisi tahun 1947 bergambar Bung Karno yang menjadi salah satu daya tarik bagi para pengunjung.
"Benda-benda ini menjadi koleksi yang paling banyak menarik perhatian pengunjung karena merupakan saksi kehidupan Bung Karno selama berada di Bengkulu," kata Safri.
Tak hanya dikenal sebagai tokoh politik, Bung Karno juga menunjukkan kiprahnya di bidang seni dan kebudayaan. Selama masa pengasingan, ia membentuk kelompok sandiwara Monte Carlo yang dipimpinnya sendiri. Kelompok tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk mementaskan drama dan teater yang sarat dengan pesan-pesan kebangsaan.
Salah seorang pengunjung, Iksan, mengaku sengaja datang untuk melihat langsung berbagai peninggalan Bung Karno sekaligus mempelajari sejarah perjuangannya selama berada di Bengkulu.
"Saya ingin melihat langsung peninggalan Bung Karno dan mengetahui sejarah perjuangan beliau selama berada di Bengkulu. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari tempat ini sehingga membuat saya semakin menghargai jasa para pahlawan," ujarnya.
Kini, Rumah Pengasingan Bung Karno tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme, semangat perjuangan, dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi muda. Keberadaannya diharapkan terus terjaga sebagai warisan sejarah bangsa sekaligus pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya lahir dari medan pertempuran, tetapi juga dari pemikiran, pendidikan, dan kebudayaan.
Penulis : Indry Ayunda Putri