Pemimpin Masa Depan yang Milenial

Muhammad Aufal Fresky

Bagaimana jadinya jika milenial Indonesia tidak lagi peduli bangsanya? Padahal nasib bangsa ini ditentukan oleh milenial hari ini.

Maju tidaknya bangsa ini bergantung juga pada sejauh mana peran pemuda dalam membangunnya. Membangun tidak berati memberikan sejumlah dana atau materi. Membangun jiwa dan kepribadian lebih utama dibandingkan membangun sarana dan prasarana. Membangun mental dan karakter bangsa jauh lebih penting dibandingkan membangun infrastruktur. Kita pun tidak hanya bisa mengandalkan peran pemerintah dalam melakukan itu semua. Jargon revolusi mental perlu direalisasikan oleh semua elemen. Utamanya kaum muda atau milenial yang menjadi tumpuan bangsa  hari ini dan di kemudian hari. 

Penting kiranya mempersiapkan milenial hari ini untuk mengetahui dan memahami tugas dan tanggung jawabnya di masa depan. Bagaimanapun juga, kelak kita yang akan menggantikan para senior yang saat ini menduduk pos-pos kepemimpinan di berbagai lini. Selanjutnya, untuk berkiprah menjadi future leader, milenial harus berani berproses. Tidak ada suatu yang instan di dunia ini. Semua butuh yang namanya proses. Bagaikan intan permata yang menjadi bernilai dan dihargai dengan harga yang tinggi karena sebelumnya telah mengalami proes. Pun demikian dengan milenial yang mesti rela hati menjalani proses yang mungkin membuat kita lelah. Kadang untuk mengeluarkan potensi terpendam para milenial itu harus ditekan terlebih dahulu.  Mengeluarkan kita dari zona nyaman. 

Milenial di negeri ini tak akan pernah  bisa menjadi pribadi hebat jika terus-terusan berada di zona nyaman. Ibarat katak yang berada di dalam sumur; hanya mengira dunianya seluas sumur. Padahal dunia jauh lebih luas daripada sumur. Tinggal bagaimana milenial tersebut mengubah sudut pandang saja bahwa selama ini zona nyaman tersebut adalah zona yang tidak akan bisa menjadikan kita orang yang luar biasa. Orang yang nantinya bisa menjadi harapan bangsa. Dalam hal ini, dibutuhkan kesadaran dan keberanian untuk melangkah keluar. Tidak hanya diangan-angan. Kita dituntut untuk bisa memaksa diri sendiri agar mampu mengalahkan rasa malas. 

Lalu, menyambung penjelasan di paragraf awal tadi, bahwa keperibadian milenial hari ini sangat penting untuk menjadi perhatian kita semua. Utamanya pemangku kebijakan. Jangan-jangan selama ini, pemerintah hanya mengutamakan kecerdasan intelektual anak-anak milenial dalam setiap aturan dan program yang menyangkut pendidikan. Moral bangsa yang kian merosot menjadi bukti nyata bahwa ada beberapa hal dari regulasi pemerintah menyangkut dunia pendidikan yang perlu dibenahi. Mendidik emosional dan spritual milenial sangat penting dibandingkan mengutamakan kecerdasan akademik. Percuma IQ-nya tinggi namun akhlaknya bobrok. Semisal nilai pelajaran matematikanya tinggi namun suka berbohong kepada gurunya. Bagaimanapun juga, adab jauh lebih utama dibandingkan dengan pengetahuan. Lebih baik lagi jika keduanya berjalan beriringan. Adabnya baik dan disertai juga pengetahuannnya luas. 

Selain itu, milenial hari ini perlu ditanamkan nilai-nilai kejujuran. Dibiasakan untuk berkata dan bersikap jujur. Hal tersebut sebagai upaya untuk mendidik karakter milenial. Orang jujur semakin susah untuk ditemui. Hari ini, sebagian orang begitu gampangnya melontarkan kata-kata bohong.

Pandai bersilat lidah; mengatakan sesuatu yang dusta hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi dan golongannya. Ironinya lagi, sebagian yang berbohong itu adalah orang yang telah mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki titel berderet-deret. Coba lihat saja koruptor yang tertangkap KPK; bukankah sebagian orang terdidik. Lantas kenapa mereka mengelabui rakyat dengan cara memanipulasi anggaran? Sekali lagi, kejujuran menjadi suatu hal yang langka di tengah hidup yang semakin pragmatis. 

Milenial hari ini sudah cukup pandai dalam menilai para pejabat publik yang amanah dan yang tidak. Mana pejabat yang suka menipu dan mana yang benar-benar berintegritas. Tugas kita adalah jangan sampai virus kebohongan itu menular kepada generasi sekarang. Kita harus berani memotong kebiasaan sebagian senior-senior itu yang tidak tahu diri. Caranya dengan mempersiapkan dari sekarang. Berupaya untuk mendidik jiwa agar tetap bersih. Berupaya untuk terus menjadi orang-orang yang berkata benar apapun resikonya. Setia kepada kebenaran adalah ciri khas sikap seorang patriot. Milenial mesti belajar dari sekarang untuk menjadi patriot sejati di kemudian hari. 

Mari jangan berleha-leha di masa muda.  Masa muda ini tidak akan terulang lagi. Jangan sampai menyesal nantinya. Waktu yang telah berlalu tak akan terulang lagi. Momentum masa muda adalah kesempatan terbaik untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan segala potensi yang ada. Masa muda menjadi waktu yang paling terbaik untuk mengasah setiap skill yang kita miliki. Tentu saja sebagai bekal nantinya sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Milenial harus menjadi orang yang membawa manfaat bagi semua orang.

Dalam hal ini, dibutuhkan pribadi-pribadi yang peka dan mau untuk terjun langsung melakukan perbaikan di segala lini kehidupan. Harapannya mulai saat ini, kita selaku milenial belajar untuk menjadi problem solver; belajar untuk mengambil peran dalam menciptakan perubahan-perubahan positif di tengah masyarakat. Akhir kata, semoga milenial semakin sadar bahwa perannya sangat dinantikan oleh bangsa ini. 

Penulis : Muhammad Aufal Fresky (Kolumnis, Kontributor Bengkulutoday)