Oleh: Moh Fatichuddin ASN BPS Provinsi Bengkulu
Bengkulutoday.com - Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam media https://bengkuluprov.go.id/lepas-ekspor-kopi-gubernur-rohidin-optimis-kopi-bengkulu-berkembang/ menuliskan bahwa “pada tanggal 17 Desember 2021, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah melepas ekspor komoditi kopi Bengkulu. Ia yakin hal ini akan membangun optimisme terhadap komoditas unggulan Provinsi Bengkulu. Adapun ekspor kopi Bengkulu yang dilakukan pada hari ini dengan jumlah 19 Ton dengan tujuan Timur Tengah”.
Berita yang menggembirakan bagi masyarakat Bengkulu, khususnya masyarakat per kopian. Namun demikian informasi tersebut juga menjadi tantangan bagi Bengkulu, mampukan menjaga keberlanjutan ekspor kopinya di waktu mendatang. Provinsi Bengkulu sangatlah berpotensi untuk melakukan ekspor mengingat posisinya di perkopian nasional pada tahun 2020 menduduki peringkat 5 (lima) besar sebagai produsen kopi nasional.
Kopi bagi Provinsi Bengkulu memiliki “ikatan batin” yang sangat kuat.
Orang yang berkunjung ke Bengkulu biasanya tidak lupa membawa kopi sebagai oleh-oleh, bahkan sering pula masyarakat Bengkulu terutamanya “pendatang” mengikirimkan kopi kepada sanak saudara mereka di luar Bengkulu atau di tempat asal mereka. Selain indikator oleh-oleh, ikatan batin lainnya ditunjukkan banyaknya pelaku usaha kopi di Bengkulu. Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) BPS tahun 2018, menyebutkan ada 103.693 rumah tangga yang mengusahakan komoditas kopi, dengan jumlah terbesar berada di Kabupaten Rejang Lebong sebanyak 30.954 rumah tangga. Tak dipungkiri lagi kedekatan batin antara kopi dengan masyarakat Bengkulu.
Posisi Kopi Bengkulu
Untuk tingkat nasional Bengkulu tidak bisa dianggap sebelah mata, setelah di 2018 Bengkulu berada di posisi 6 (enam) besar produsen kopi nasional. Kemudian berhasil mengalami peningkatan hingga di 2019-2020 posisi Bengkulu menjadi 5 (lima) besar produsen kopi nasional. Di tahun 2020 pemegang 5 Produsen kopi terbesar nasional adalah Provinsi Sumatera Selatan (26 persen), Lampung (15 persen), Sumatera Utara dan Aceh (10 persen) dan Bengkulu (8 persen) Produksi kopi Bengkulu tahun 2018 mencapai 55,38 ribu ton, menurun jika dibandingkan tahun 2017 yakni 58,85 ribu ton, di periode 2017-2018 ini Bengkulu berada di posisi 6 (enam) nasional.Selanjutnya di periode 2019-2020, produksi kopi Bengkulu mengalami kenaikan hingga berhasil menggeser posisi Jawa Timur sebagai pemegang posisi 5 besar.
Tahun 2019 produksi kopi Bengkulu mencapai 62,57 ribu ton dengan luas area 88,05 ribu hektar. Dan kembali meningkat di 2020 hingga mencapai angka produksi 62,28 ribu ton dengan luas area 85,70 ribu hektar. Dengan kata lain peningkatan produksi di 2020 sebagai akibat kenaikan produktivitas per hektar nya, meski angka produktivitas Bengkulu tersebut masih berada di bawah 5 besar produktivitas nasional. Produkivias tertinggi kopi national dipegang oleh provinsi Riau, disusul Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung. Rendahnya produktivitas kopi Bengkulu ini menjadi catatan tersendiri, seperti diungkapkan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu Ir Ricky Gunarwan di berbagai media, bahwa setiap panen kopi per hektarnya hanya mampu menghasilkan sekitar 800 kg, yang artinya satu batang tanaman kopi produksinya belum sampai sekilo.
Kalau dicermati menurut kabupatennya, pada tahun 2020 Rejang Lebong merupakan penghasil kopi terbesar 20,01 ribu ton, diikuti kepahiang 19,22 ribu ton. Kondisi tersebut terbalik pada tahun 2019, Kab. Kepahiang menduduki posisi tertinggi hingga 19,13 ribu ton dan Rejang Lebong diurutan berikutnya 17,98 ribu ton. Sementara kabupaten lain produksi kopinya di bawah 5 ribu ton, dan untuk Mukomuko serta Kota Bengkulu tidak menghasilkan kopi di tahun 2020. Kondisi pergeseran antara Rejang Lebong dan Kepahiang menjadi menarik karena dari SUTAS 2018, petani kopi terbanyak berada di Rejang Lebong dan menurut luas lahan perkebunan kopi ternyata Kepahiang berada di atas Rejang Lebong.
Fenomena di atas sangat dimungkinkan karena baik di Rejang Lebong dan Kepahiang, usaha komoditas kopi masih bersifat konvensional dan kecenderungan petani memiliki ketergantungan pada pihak lain terkait modal dan biaya produksi. Yang berdampak pada tidak maksimalnya proses bisnis dalam usaha komoditi kopi. Ketergantungan modal pada pihak lain juga akan berpengaruh negative pada proses panen, sebelum buah kopi pada kondisi siap panen akan sangat mungkin ada pihak lain yang sudah membelinya. Hasil pembelian pada kondisi buah kopi siap panen tentunya cenderung lebih rendah, namun hal ini mungkin akan dilakukan oleh petani guna mengganti biaya produksi yang sudah dikeluarkan dan berasal dari pihak lainnya.
Optimisme Kopi Bengkulu
Ekspor kopi yang yang diluncurkan oleh Gubernur Rohidin sangat mungkin menjadi energi postif yang dapat membangun optimisme dalam pengembangan kopi Bengkulu. ditambah dengan dukungan Gubernur dalam penciptaan branding kopi Bengkulu. seperti diungkapkan pada saat pelepasan ekspor tersebut bahwa saat ini Provinsi Bengkulu telah membangun Warung Kopi Digital yang mulai merambah ke berbagai negara seperti Malaysia, Khazakstan dan Perancis. Selain itu telah dilakukan pengembangan Kopi Bengkulu dengan standarisasi mutu yang diterima oleh pasar dunia. Penciptaan branding kopi Bengkulu ini tentunya sangat diharapkan sehingga keberlanjutan ekspor kopi Bengkulu dapat terjaga dan dilakukan melalui Pelabuhan Pulau Baii.
Untuk peningkatan produktivitas Kopi Bengkulu sangat mungkin dapat dilakukan dengan merangkul pihak akademisi yang ada di Bengkulu dalam rangka menghasilkan benih kopi yang unggul dan atau metode pengembangan kopi yang tepat guna dan mutu. Metode penyambungan/steak untuk tanaman kopi yang sudah berumur merupakan salah satu cara yang dilakukan selama ini. Dengan metode steak tersebut petani dapat menikmati panen lebih dari tinggi dibanding dari tanaman kopi yang berasal dari benih.
Demikian juga dengan peningkatan kualitas dalam rangka mencapai standarisasi mutu, perlu dilakukan kolaborasi dengan pihak akademisi atau peneliti serta pelaku usaha “kopi sajian”. Variasi selera pecinta kopi mungkin perlu lakukan untuk mendapatkan seperti apa sih kebutuhan pasar. Hal ini perlu dilakukan mengingat pangsa pasar kopi merupakan masayarakat tertentu yang mendapatkan “feeling” tersendiri terhadap kopi. Pada saat sudah mendapat feel tersebut, maka yang bersangkutan akan mendatangi sumber dari kopi yang sesuai selera meraka. Setelah variasi kualitas kopi didapatkan dilanjutkan kolaborasi dengan akademisi untuk penelitian yang dapat menghasilkan kopi sesuai kebutuhan selera pasar.
Produktivitas tinggi dan kualitas yang sesuai selera pasar akan kurang optimal jika strategi pemasaran yang diambil kurang tepat. Kondisi pandemi covid-19 saat ini sebetulnya menjadi peluang tersendiri bagi Bengkulu dalam menerapkan strategi pemasaran. Karena produsen yang lainpun mengalami kondisi “tidak normal” jika dibandingkan sebelum covid-19. Peluang saat ini hendaknya dapat diambil oleh pelaku usaha kopi Bengkulu, seperti disebutkan sebelumnya bahwa produsen besar kopi nasional berada di Pulau Sumatera. Kondisi ini sangat mungkin mengisyaratkan bahwa potensi yang dimiliki oleh produsen kopi relatif sama, tinggal menunggu bagaimana strategi yang diambil oleh masing-masing produsen untuk menarik hati pecinta kopi.
Jangan dilupakan peran pemerintah dalam pengembangan kopi Bengkulu, karena usaha komoditi kopi di Bengkulu dilakukan sebagian besar oleh rakyat. Karena itu sangat perlu intervensi dari pemerintah agar petani kopi merasakan keuntungan dari usaha kopi. Kesejahteraan petani kopi perlu diperhatikan, tidak dianaktirikan dibanding petani komoditi lainnya. Kopi Bengkulu yang sangat potensi tersebut dengan intervensi pemerintah sangat mungkin menjadi “pemicu” peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan dan pada akhirnya dapat menjadi alternative solusi pengurangan angka kemiskinan.
Akhirnya kolaborasi antar pelaku usaha kopi, tepatnya metode usaha kopi serta tepatnya strategi pemasaran kopi Bengkulu ditambah intervensi pemerintah hendaknya dapat menjaga kelangsungan posisi kopi Bengkulu untuk dapat berada pada posisi 5 besar produsen kopi nasional. Kelangsungan tersebut sangat mungkin akan bermuara pada kesejahteraan petani kopi yang lebih baik…wallahualam