Seluma, Bengkulutoday.com – Kepala SDN 35 Seluma, Sukardianto, mengungkapkan bahwa sejumlah bantuan yang diterima sekolahnya sepanjang tahun 2025 bukan berasal dari usulan kebutuhan pihak sekolah.
Hal tersebut disampaikan Sukardianto saat diwawancarai pada Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, bantuan yang diterima dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Seluma antara lain berupa alat olahraga dan papan merek sekolah.
“Untuk bantuan dari dinas itu ada alat olahraga untuk siswa kelas 3 sampai kelas 6. Selain itu ada juga papan merek sekolah yang langsung dipasang di depan sekolah,” kata Sukardianto.
Namun ia menjelaskan, bantuan tersebut tidak berasal dari usulan yang diajukan pihak sekolah.
“Kalau bantuan-bantuan itu memang bukan usulan dari sekolah. Yang kami usulkan sebenarnya hanya bangku sekolah,” ujarnya.
Diketahui, sepanjang tahun 2025 terdapat berbagai kegiatan pengadaan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Seluma. Beberapa di antaranya yakni pengadaan papan merek sekolah dengan pagu anggaran lebih dari Rp1 miliar, pembayaran jasa desain lambang sekolah dasar dengan pagu anggaran sekitar Rp920 jutap.
Selanjutnya, pengadaan buku sumatif atau LKS, pengadaan alat peraga bidang studi olahraga dan kesenian, serta pengadaan aplikasi media pembelajaran.
Selain itu, masih terdapat sejumlah kegiatan pengadaan lainnya yang dilaksanakan pada tahun anggaran yang sama.
Sukardianto menambahkan, untuk kebutuhan tahun mendatang pihak sekolah telah mengajukan sejumlah usulan kepada dinas terkait.
Salah satu kebutuhan yang dianggap mendesak adalah pembangunan gedung laboratorium beserta peralatan pendukungnya.
Menurutnya, hingga saat ini SDN 35 Seluma belum memiliki fasilitas laboratorium yang memadai.
“Laboratorium belum ada sama sekali. Yang ada hanya peralatan lama dari kepala sekolah sebelumnya sekitar 15 sampai 20 unit,” jelasnya.
Proposal pembangunan laboratorium tersebut, lanjutnya, telah disampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan melalui pejabat terkait.
Di sisi lain, ia menyebut kondisi sekolah secara umum tidak memiliki kendala besar, termasuk dari segi tenaga pengajar. Namun masih terdapat beberapa guru honorer yang belum memiliki jam mengajar yang cukup.
“Guru sebenarnya cukup, tetapi masih ada sekitar enam guru honorer yang belum mendapatkan jam mengajar,” tutupnya. (Franky Adinegoro)