Seluma – SMPN 24 Seluma telah melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) gelombang pertama pada 6–7 April 2026 dengan melibatkan 25 siswa. Pelaksanaan ujian terpaksa dilakukan di luar sekolah akibat keterbatasan jaringan internet dan kondisi listrik di wilayah setempat.
Kepala SMPN 24 Seluma, Martha, mengatakan seluruh peserta dibagi dalam dua sesi, yakni 13 siswa pada sesi pertama dan 12 siswa pada sesi kedua. Materi yang diujikan meliputi literasi dan numerasi.
“Alhamdulillah pelaksanaan TKA sudah berjalan untuk gelombang pertama. Total ada 25 siswa, dibagi dua sesi,” ujar Martha, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, secara fasilitas perangkat seperti Chromebook dan laptop sebenarnya sudah mencukupi. Namun kendala utama terletak pada tidak adanya sinyal internet di wilayah Desa Air Petai serta sering terjadinya pemadaman listrik.
“Karena di daerah kami sinyal tidak ada dan listrik sering mati, maka pelaksanaan TKA tidak dilakukan di sekolah, melainkan di kota,” jelasnya.
Menurut Martha, kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas belajar mengajar sehari-hari di sekolah. Keterbatasan jaringan membuat guru dan siswa kesulitan dalam mengakses maupun mengirim data.
“Kadang kami sudah mengerjakan di sekolah, tapi untuk mengirim berkas harus menunggu sampai keluar dari wilayah yang ada sinyal,” katanya.
Selain persoalan jaringan, sekolah juga menghadapi keterbatasan sarana pendukung pembelajaran. Pada tahun 2025, bantuan yang diterima hanya berupa alat olahraga, sementara kebutuhan utama seperti alat peraga pembelajaran IPA dan IPS belum terpenuhi.
“Kami sudah sangat lama tidak mendapatkan bantuan alat peraga. Padahal itu sangat dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran,” ungkap Martha.
Kondisi sarana prasarana lainnya juga memprihatinkan, terutama fasilitas toilet siswa. Dari total yang ada, hanya dua unit yang masih dapat digunakan, sementara sisanya mengalami kerusakan berat.
“WC siswa kondisinya sudah rusak parah. Dengan jumlah siswa sekitar 86 orang, tentu sangat tidak memadai. Kami sudah diusulkan pembangunan empat WC, bahkan sudah diukur, tetapi sampai sekarang belum terealisasi,” jelasnya.
Di sisi lain, jumlah siswa di SMPN 24 Seluma juga terus mengalami penurunan. Saat ini total siswa kurang dari 100 orang, jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Martha menyebut hal ini dipengaruhi oleh banyaknya siswa dari wilayah rayon yang justru memilih bersekolah di luar daerah, terutama ke kota.
“Seharusnya siswa dari wilayah rayon masuk ke sekolah kami, tetapi banyak yang memilih ke kota. Ini sudah kami sampaikan ke dinas agar ada solusi,” ujarnya.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih, baik dalam pemenuhan sarana prasarana maupun penataan sistem rayonisasi, agar keberlangsungan pendidikan di sekolah tetap terjaga. (Franky)