Mahasiswa Makin Bergantung pada AI, Berpikir Kritis Jadi Tantangan
Oleh : Ns Noermala Sari, S.Kep
Perawat RSUD dr. M. Yunus Bengkulu
Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Bengkulutoday.com – Kemudahan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan membawa tantangan baru bagi mahasiswa. Di satu sisi, AI membantu mempercepat pencarian informasi dan mempermudah proses belajar. Namun, di sisi lain, ketergantungan pada teknologi ini berisiko membuat mahasiswa lebih fokus menyelesaikan tugas daripada memahami materi.
Hal tersebut disampaikan Ns. Noermala Sari, S.Kep., perawat RSUD dr. M. Yunus Bengkulu sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Pringsewu, melalui tulisannya berjudul “Mudah Mendapat Jawaban, Malas Mencari Pemahaman”.
Ia menceritakan pengalamannya saat mengikuti diskusi kelompok di kampus. Hampir seluruh mahasiswa menggunakan aplikasi AI untuk mendapatkan jawaban, bahkan sebelum pertanyaan dosen selesai disampaikan. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali maksud jawaban tersebut, sebagian mahasiswa justru kesulitan.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada teknologi AI, melainkan pada cara mahasiswa memanfaatkannya. AI yang seharusnya menjadi alat bantu belajar justru berpotensi menjadi jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa melalui proses pemahaman yang mendalam.
Survei global Chegg tahun 2025 terhadap mahasiswa di 15 negara mencatat 95 persen mahasiswa Indonesia menggunakan AI generatif untuk belajar, sedangkan 86 persen memanfaatkannya untuk tugas akademik. Angka tersebut menunjukkan tingginya penggunaan AI di kalangan mahasiswa Indonesia.
Namun, tingginya penggunaan teknologi belum tentu sejalan dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis. Noermala juga merujuk penelitian Michael Gerlich dari SBS Swiss Business School yang diterbitkan dalam jurnal Societies pada 2025. Penelitian terhadap 666 responden tersebut menemukan hubungan antara meningkatnya ketergantungan pada AI dan menurunnya skor berpikir kritis.
Ia menilai proses belajar yang sesungguhnya membutuhkan usaha, mulai dari membaca, menghadapi kesulitan, mencoba, melakukan kesalahan, hingga akhirnya memahami suatu konsep. Proses inilah yang membentuk kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Kekhawatiran tersebut, menurutnya, menjadi semakin penting dalam dunia kesehatan. Sebagai seorang perawat, ia memahami bahwa kondisi pasien dapat berubah dengan cepat sehingga tenaga kesehatan harus mampu mengambil tindakan berdasarkan ilmu, keterampilan, dan pemahaman yang telah dikuasai.
Dalam situasi darurat, tenaga kesehatan tidak selalu memiliki waktu untuk mencari jawaban melalui aplikasi. Karena itu, pemahaman yang mendalam menjadi kebutuhan penting yang tidak dapat digantikan hanya dengan kemampuan menghasilkan jawaban secara cepat.
Meski demikian, Noermala tidak sepakat jika penggunaan AI harus dilarang sepenuhnya. Ia menilai teknologi tersebut tetap dapat dimanfaatkan secara positif apabila digunakan untuk membantu memahami materi, bukan sekadar menyalin jawaban.
Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk meminta penjelasan atas konsep yang sulit, kemudian mencoba menyampaikan kembali materi tersebut dengan bahasa sendiri. Jika belum mampu menjelaskannya, hal itu dapat menjadi tanda bahwa materi tersebut masih perlu dipelajari lebih lanjut.
Kampus dan dosen juga dinilai memiliki peran penting dalam membangun budaya belajar yang sehat. Pemberian tugas berupa penjelasan lisan, pembahasan kasus, serta presentasi yang mengharuskan mahasiswa mempertahankan argumennya dapat membantu mengukur pemahaman secara lebih mendalam.
Selain itu, aturan yang jelas mengenai penggunaan AI dalam tugas akademik dan kewajiban mencantumkan penggunaannya secara jujur dinilai dapat mendorong pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, AI merupakan alat yang dapat membantu mahasiswa berkembang apabila digunakan dengan tepat. Namun, teknologi tersebut juga dapat membuat proses belajar kehilangan makna apabila hanya dijadikan jalan pintas.
Noermala mengingatkan bahwa memperoleh gelar akademik tidak cukup tanpa kemampuan yang benar-benar dikuasai. Sebab, pendidikan bukan sekadar tentang mendapatkan jawaban yang benar, melainkan membangun pemahaman dan kemampuan berpikir secara mandiri.